Entah kekuatan apa yang mendorong saya untuk terjaga malam ini.
Tak bisa dilogika pikiran ketika menyadari bahwa saya di depan laptop
hampir non-stop selama 14 jam, dari jam 7 pagi hingga tengah malam hanya
dengan jeda untuk sholat dan memenuhi kewajiban pengabdian saya kepada
Emak. Punggung saya letih, pantat saya penat, mata saya hampir pedih,
dan otak saya rasanya sudah tidak bersarang lagi di cranium saya. Dan
untuk rasa yang terakhir, rasa otak yang melayang entah ke mana, saya
merasa tidak kehilangannya, karena saya hanya butuh otak sebentar saja.
Logika otak saya sudah tidak bisa jalan untuk melogika semua ini. Hanya
ada satu kata terlintas : KOPLAK!!
Saya masih enggan beranjak dari meja kecil penuh tumpukan buku yang berdesakan dengan laptop saya. Kopi saya pun sudah habis dari dua jam yang lalu dan hampir sekaleng kue habis untuk kudapan sehari dan setengah malam ini. Dua pekerjaan yang saya targetkan selesai sebelum jam 10 malam tadi pun selesai sudah. Harusnya saya segera cuci muka, cuci kaki, sikat gigi, dan kemudian tidur, karena besok saya ada kewajiban upacara bendera dan ada jadwal supervisi di jam ke-2. Tetapi ada rasa “menunggu”, tunggulah, sebentar lagi, sehingga saya harus terjaga. Seperti Shinta yang menunggu Rama untuk membebaskannya dari cengkeraman Rahwana. Seperti Magic cicada yang menunggu semusim di dalam tanah sebagai larva menjijikkan untuk menjadi kumbang gagah penanda pergantian musim penghujan dan musim kemarau. Seperti sumbu lilin yang menanti api agar mampu menjadi gulita yang menerangi.
Ya Tuhan, Engkau yang menjadikan ini semua. Akan kukembalikan kepada siapa lagi semua perkara ini selain kepadaMU? Aku tak pernah meng”angan”kan, juga meng”ingin”kan, tapi Engkau telah jadikan. Sedangkan aku tak boleh berburuk sangka padaMU. Semua yang Engkau jadikan sebelum ini, saat ini, dan esok nanti harus kuyakini bahwa semua adalah bagian perencanaanMU yang Maha Hebat. Logikaku saja tak akan pernah mampu menyamai logikaMU dalam segala perencanaan. Aku kecil di hadapMU, seperti sebutir pasir di gurun, setetes air di samudera, satu atom oksigen di atmosfer. Apalah saya ini Tuhan? Tapi satu yang selalu kuyakini, Tuhan, kasih sayangMU meliputi semua makhluk dan semesta. KarenaMu aku masih ada, karenaMu aku masih “merasa”, karenaMU… karenaMU… . Ya Rahman Ya Rahiim. KepadaMU..kupasrahkan segala urusan duniaku. Engkau Yang Maha Mengetahui yang terbaik untukku.
31 August 2014 at 23:55
Saya masih enggan beranjak dari meja kecil penuh tumpukan buku yang berdesakan dengan laptop saya. Kopi saya pun sudah habis dari dua jam yang lalu dan hampir sekaleng kue habis untuk kudapan sehari dan setengah malam ini. Dua pekerjaan yang saya targetkan selesai sebelum jam 10 malam tadi pun selesai sudah. Harusnya saya segera cuci muka, cuci kaki, sikat gigi, dan kemudian tidur, karena besok saya ada kewajiban upacara bendera dan ada jadwal supervisi di jam ke-2. Tetapi ada rasa “menunggu”, tunggulah, sebentar lagi, sehingga saya harus terjaga. Seperti Shinta yang menunggu Rama untuk membebaskannya dari cengkeraman Rahwana. Seperti Magic cicada yang menunggu semusim di dalam tanah sebagai larva menjijikkan untuk menjadi kumbang gagah penanda pergantian musim penghujan dan musim kemarau. Seperti sumbu lilin yang menanti api agar mampu menjadi gulita yang menerangi.
Ya Tuhan, Engkau yang menjadikan ini semua. Akan kukembalikan kepada siapa lagi semua perkara ini selain kepadaMU? Aku tak pernah meng”angan”kan, juga meng”ingin”kan, tapi Engkau telah jadikan. Sedangkan aku tak boleh berburuk sangka padaMU. Semua yang Engkau jadikan sebelum ini, saat ini, dan esok nanti harus kuyakini bahwa semua adalah bagian perencanaanMU yang Maha Hebat. Logikaku saja tak akan pernah mampu menyamai logikaMU dalam segala perencanaan. Aku kecil di hadapMU, seperti sebutir pasir di gurun, setetes air di samudera, satu atom oksigen di atmosfer. Apalah saya ini Tuhan? Tapi satu yang selalu kuyakini, Tuhan, kasih sayangMU meliputi semua makhluk dan semesta. KarenaMu aku masih ada, karenaMu aku masih “merasa”, karenaMU… karenaMU… . Ya Rahman Ya Rahiim. KepadaMU..kupasrahkan segala urusan duniaku. Engkau Yang Maha Mengetahui yang terbaik untukku.
31 August 2014 at 23:55
Terima kasih telah membaca artikel tentang “Sumbu Lilin Menunggu Api” di blog Pendaki Mimpi jika anda ingin menyebar luaskan artikel ini di mohon untuk mencantumkan link sebagai Sumbernya, dan bila artikel ini bermanfaat silakan bookmark halaman ini di web browser anda, dengan cara menekan Ctrl + D pada tombol keyboard anda.